Batu Baliang Sungai Tarab

Batu Baliang

Batu Berlobang di Sungai Tarab

Oleh: Dodi Chandra

 Berbicara mengenai cerita pertikaian antara dua tokoh sejarah Minangkabau yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih nan Sabatang akan sontak tertuju pada Batu Batikam di Lima Kaum. Batu yang menjadi bukti kehadiran tokoh Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan dalam sejarah Minangkabau sebagai pendiri dari dua keselarasan yaitu Bodi Caniago dan Koto Piliang. Menurut kepercayaan tradisional Minangkabau, batu ini berlobang karena ditikam oleh Datuk Parpatih nan Sabatang sebagai tanda berakhirnya perselisihan dengan Datuk Katamanggungan mengenai soal adat. Dalam adat Minangkabau terdapat dua kelarasan, yaitu kelarasan Koto-Piliang (aristokrasi) dan Bodi-Caniago (demokrasi). Dengan ditikamnya batu tersebut maka kedua kelarasan tersebut tetap diakui keberadaannya dalam masyarakat Minangkabau.

Tak hanya di Lima Kaum, keberadaan batu berlobang tersebut juga berada di Sungai Tarab, tepatnya di Jorong Bodi, Nagari Sungai Tarab, Kecamatan Sungai Tarab, Tanah Datar, Sumatera Barat. Batu Baliang merupakan batu monolit yang terbuat dari batu andesit, berbentuk persegi panjang, namun pada bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran. Batu Baliang memiliki lubang di bagian tengah. Lubang tersebut menembus di kedua sisi batu. Batu ini berukuran panjang 97 cm, lebar 58 cm, dan tebal 20 cm. Batu berada di kawasan persawahan masyarakat, namun dari kepemilikan objek menjadi milik dari semua orang di Jorong Bodi.

Batu Baliang
Batu Baliang, Sungai Tarab (Dok. Pribadi: 2015)

Batu Baliang diartikan sebagai batu yang memiliki lobang yang tembus. Menurut masyarakat sekitar Batu Baliang ini memiliki keterkaitan yang erat dengan Batu Batikam yang ada di Lima Kaum. Lobang yang ada di batu tersebut merupakan hujaman keris dari Datuk Ketumanggungan karena adanya perselisihan pembagian wilayah kelarasan di Minangkabau dengan Datuak Parpatih nan Sabatang.

Keberadaan batu baliang di Sungai Tarab ini menandakan bahwa wilayah Sungai Tarab dahulunya yang diceritakan sebagai wilayah Katumanggungan sekilas tampaknya benar adanya. Batu Baliang dan Batu Batikam adalah 2 batu belobang yang masing-masing memiliki keunikan dari sisi bentuk, sejarah khususnya. Tak sedikit dari masyarakat yang mendatangi batu ini, hanya untuk membuktikan keberadaan batu tersebut. Dan banyak pula yang datang sembari untuk meneliti dan menggali informasi dibalik batu itu. Begitu pula dengan masyarakat setempat, batu baliang masih dikameramtkan, dikarenakan nilai sejarah dan budaya dari batu itu dan pada akhirnya menjadi masyarakat peduli dalam menjaga dan melestarikan warisan leluhur agar tidak hilang dimakan zaman.

 

Advertisements

Balairung Sari Tabek

Balairung Sari Tabek

Balai Adat nan Kian Bersinar

Oleh: Dodi Chandra

 Jika anda pernah ke Batusangkar, pasti langsung tertuju pada objek wisata Istano Basa Pagaruyung. Hal ini benar adanya, karena Istano Basa Pagaruyung merupakan ikon wisata Tanah Datar yang tak hanya dikenal di dalam negeri saja, namun juga sampai ke luar negeri. Harumnya nama Istano Basa Pagaruyung terletak pada keunikan bentuk rumah tradisional orang Minangkabau yang bergonjong, beratap ijuk dan dihiasi dengan ukiran-ukiran beragam corak dan warna. Selain Istano Basa Pagaruyung, bentuk bangunan tradisional lainnya salah satunya dapat kita nikmati di Balairung Sari Tabek.

DSC_0599
Foto: Balairung Sari Tabek (Dok. Pribadi: 2013)

Balairung Sari Tabek berlokasi di Jorong Tabek, Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kab. Tanah Datar. Bangunan ini berasal dari periode Islam kira-kira abad ke-17/18 Masehi. Balairung Sari Tabek merupakan bangunan Balai Adat yang terbuat dari kayu dengan atap dari bahan ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung. Tantetjo Gurhano adalah orang dibalik pembuatan Balairung Sari Tabek ini, dengan menerapkan bentuk bangunan tradisional Minangkabau. Bangunan Balairung Sari ditopang tiang kayu yang berjumlah 18 pasang, dengan tinggi tiang 3 m. sedangkan tinggi panggung adalah 1 m. Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, berukuran panjang 18 m dan lebar 4.40 m.

DSC_0614
Foto: Ruang tempat pertemuan (Dok. Pribadi: 2013)

Keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya. Pada ruang (bagian antara satu tiang ketiang berikutnya) ke-9 dari kanan (utara) lantainya terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya, sehingga seolah-olah lantai bangunan ini terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan. Yang lebih memikat lagi adalah, sistem pasak masih diterapkan pada bangunan ini, sehingga akan menjadi pola adaptasi yang tepat melihat wilayah Tanah Datar merupakan patahan lempeng yang sering menimbulkan gempa.

DSC_0611
Foto: Teknik Pasak

Di halaman depan Balairung Sari sudah dibuatkan taman, dan dibelakangnya dibuatkan kolam, serta telah diberi pagar tembok keliling dari bata berplester. Di sisi Timur Laut terdapat tambahan bangunan baru yang terletak di tengah-tengah kolam terdapat semacam gazebo (sebuah bangunan ruang terbuka yang berdinding setengahnya dari tinggi bangunan, dengan ukuran bangunan tidak terlalu besar, biasanya seukuran ruangan kamar).

Kepemilikan lahan Balai Rung Sari Tabek saat ini adalah milik adat/ pemerintah, dalam hal pemeliharaan telah dilakukan dengan baik oleh pihak BPCB Sumatera Barat (wilayah kerja Sumatera Barat, Riau dan Kepri). Balairung Sari Tabek masih eksis hingga sekarang. Pemanfaatan Balairung Sari sebagai tempat berkumpul, musyawarah dan atau pertemuan adat, masih bertahan hingga saat ini. Pemerintah nagari, sekolah, kelompok tani, dan lembaga lainnya banyak yang mempergunakan tempat ini sebagai sarana berkumpul dan musyawarah.Selain itu, tak sedikit masyarakat yang berkunjung untuk wisata sejarah dan budaya dan juga pada pelajar yang banyak menjadikan bangunan Balairung Sari ini sebagai objek riset baik itu untuk makalah, artikel dan tulisan ilmiah. Keberadaan bangunan ini terasa sangat berharga bagi masyarakat Minangkabau khususnya. Nilai sejarah, budaya, arsitektur bangunannya yang secara tidak langsung masih menjadi daya tarik bagi khalayak ramai. Dapat dikatakan pula bahwa, Balairung Sari sebagai living monument yang tak lekang oleh roda zaman.

Meriam Bonjol

Meriam Bonjol

Napak Tilas Perjuangan Imam Bonjol

Oleh: Dodi Chandra

 Dalam perjalanan ke daerah Bonjol, tempat dimana lahirnya seorang tokoh yang menjadi pengerak dalam gerakan Perang Paderi melawan pemerintahan Kolonial Belanda. Perjalanan ini menjadi sebuah napak tilas sejarah, dengan mengunjungi beberapa lokasi yang menurut masyarakat menjadi saksi sejarah Paderi. Beberapa tempat tersebut masih ada, dan sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin mengetahui sedikit tentang Perang Paderi. Salah satu objek yang penulis kunjungi adalah meriam Bonjol dalam melawan penduduk Bonjol.

Situs Meriam Bonjol terletak lebih kurang 150 m dari jalan Pasar Ganggo Hilir, arah utara. Dari pertulisan yang tercantum pada meriam diketahui bahwa meriam tersebut berasal dari Portugis dan dibuat sekitar tahun 1700-an. Kondisi meriam saat ini sebagian terkubur dalam tanah. Yang tampak di permukaan adalah bagian moncongnya serta beberapa buah proyektil. Meriam yang tampak di permukaan memiliki panjang sekitar 50 cm dengan lubang meriam berdiameter 11 cm.

DSC_4151
Foto: Meriam Bonjol (Dok. pribadi: 2013)

Dalam penulusan sejarah Paderi di Bonjol, penulis ditemani oeh Bapak Ali Usman yang banyak mengetahui terkait meriam tersebut. Menurut penuturannya, meriam yang di daerah informan di daerah Ganggo Hilir ini merupakan bukti bisu Perang Paderi di daerah ini. Meriam tersebut dalam keadan utuh memiliki ukuran panjang antara 1 – 1,5 m, dilengkapi roda.

Pada meriam ini, terdapat proyektil berjumlah 14 buah berdiameter 9 cm, 10 cm, 13 cm, dan 14 cm. Tiga buah proyektil yang berukuran 13 cm dan sebuah yang berukuran 14 cm bukan merupakan proyektil dari meriam tersebut. Pada proyektil ini terdapat lubang tempat mengisi mesiu yang akan meledak bila membentur sasaran. Proyektil ini memiliki pelontar khusus yang berukuran lebih besar. Selain meriam terdapat kayu yang dipergunakan untuk mencampur mesiu.

DSC_4154
Foto: Proyektil (Dok. pribadi: 2013)

Keberadaan meriam ini dahulunya berkaitan dengan Bukit Tak Jadi. Bukit Tak Jadi yang juga dijadikan benteng pertahanan oleh Belanda sangat strategis dalam memantau pergerakan musuh di sekitar wilayah Ganggo Hilia. informasi dari Pak Ali Usman menguatkan pula bahwa lokasi meriam semula berada di Benteng Bukit Takjadi, namun untuk melindungi meriam kemudian dipindahkan di dekat Pasar Ganggo Hilir. Dengan perpindahan lokasi tersebut, meriam ditempatkan pada sebuah bangunan atau cungkup yang dibangun oleh masyarakat sekitar. Selain untuk menjaga benda budaya, masyarakat juga menganggap meriam tersebut sebagai benda keramat, sehingga perlu dilindungi.

DSC_4147
Foto: Cungkup (Dok. pribadi: 2013)

 

Makam Ninik Jangguk Hitam

Situs Makam Ninik Jangguk Hitam
Oleh: Dodi Chandra

Situs makam Ninik Jangguk Hitam terletak di Jorong Sitangkai, Nagari Talang Tangah, Kecamatan Sungai Tarab, Kab. Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Situs ini berada pada titik koordinat E 100º 32’01,7” S 00º 06’ 17,5”. Situs ini berada di dataran tinggi, dengan elevasi 945 mdpl. Untuk mengakses situs ini dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Situs makam Ninik Jangguk Hitam dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat dari suku Patopang.
Situs ini merupakan situs makam yang berasal dari periode Islam. Pemberian nama situs didasarkan atas nama atau tokoh yang dimakamkan yaitu Ninik Jangguk Hitam. Nama ini merupakan tokoh lokal yang dikeramatkan. Secara umum situs terpelihara dengan baik karena adanya juru pelihara dari BP3 Batusangkar, di samping situs ini telah diberi pagar kawat berduri. Situs merupakan makam tunggal di dalam bangunan. Makam tersebut berada ditengah-tengah di atas susunan batu andesit berukuran 7,5 x 6,3 x 0,80 m. Makam terletak di bawah sebatang pohon besar yaitu pohon Kubang. Makam memiliki sepasang nisan berupa batu tegak (maejan), dengan orientasi utara-selatan. Nisan dibungkus dengan kain putih, disekitarnya terdapat banyak bekas pembakaran kemenyan. Sesuai dengan informasi masyarakat bahwa tokoh Ninik Jangguk Hitam dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat memberikan berkah dan keselamatan bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga pada waktu-waktu tertentu seperti musim tanam, memasuki bulan puasa, ada acara-acara ritual tertentu yang dilaksanakan pada makam tersebut.

DSC_8363
Situs Makam Ninik Jangguk Hitam (Dok. Pribadi: 2013)

Di samping makam, di areal situs juga terdapat bekas Medan nan Bapaneh yang terdiri dari sebelas buah kursi batu (batu sandaran) dengan ukuran terkecil 0,25 x 0,35 x 0,07 m dan terbesar 0,81 x 0,35 x 0,10 m. Tahta batu ini menyebar mengeliling makam, kecuali pada sisi selatan. Keberadaan Medan nan Bapaneh di makam ini menurut informasi dari pemuka adat setempat merupakan tempat musyawarah apabila ada masalah di nagari (daerah setempat).

sisi timur 1
Kursi Batu di Situs Makam Ninik Jangguk Hitam (Dok. Pribadi: 2013)

 

Benteng Bukit Takjadi

Benteng Bukit Tak Jadi

Napak Tilas Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

Dalam sejarah perjuangan rakyat Sumatera Barat, kita tidak dapat melupakan Tuanku Imam Bonjol dalam memerangi Belanda. Bonjol, Pasaman menjadi saksi perjuangan Imam Bonjol berserta pengikutnya dalam perang Paderi. Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat 1772. Beliau wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864. Beliau bernama asli Muhammad Shahab atau Petto Syarif. Dia adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda yang dikenal dengan Perang Padri di tahun 1803-1837. Karena kegigihan dalam perjuangan itu, hingga pada akhirnya berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Menelusuri bekas perjuangan Imam Bonjol, Benteng Bukik Tak Jadi menjadi hal yang masih asing bagi masyarakat Sumatera Barat. Benteng ini berlokasi Kampung Caniago, Nagari Ganggo Hilie, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman. Akses menuju lokasi sangat terjangkau, lokasi tak jauh dari kantor Wali Nagari Ganggo Hilir dan Pasar Ganggo Hilie. Di sepanjang jalan menuju lokasi benteng terdapat beberapa makam kuna, salah satunya makam Inyiak Son Sangbulu yang merupakan pengikut Tuanku Imam Bonjol.

Keberadaan Benteng Bukit Takjadi tersebut, sudah lama menjadi perhatian banyak pihak, salah satunya Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar (wilayah kerja Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau) yang berganti nama dengan BPCB Sumatera Barat. BPCB Sumatera Barat yang bertugas dalam Pelestarian Cagar Budaya, telah melakukan pendataan yang pada akhirnya menetapkan Benteng Tak Jadi tersebut menjadi Cagar Budaya dengan nomor inventaris 07/BCB-TB/A/08/2007.

DSC_4172
Foto: Benteng Bukit Takjadi

Tidak hanya fisik, informasi dari situs ini sangat perlu untuk ditelusuri. Penulusuran informasi sejarah Benteng Bukit Tak Jadi, tertuju pada seorang pemuka adat bernama Ali Usman Dt. Buruak. Dt. Buruak (75 tahun), seorang yang sampai saat ini dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai pewaris untuk menjaga sejumlah barang peninggalan Tuanku Imam Bonjol. Menurut penuturan Ali Usman, Benteng Bukit Tak Jadi adalah salah satu pertahanan Imam Bonjol dalam gejolak Paderi di Bonjol. Melalui bukit tersebut kita akan dapat melihat pemandangan Bonjol, pandangan akan leluasa mengawasi daerah Bonjol dan sekitarnya. Di lokasi tersebut tidak ditemukan struktur bangunan yang mengindikasikan sebuah bangunan pertahanan. Pada masa belakangan di lokasi benteng berada didirikan monumen untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Menurut informasi Bapak Ali Usman, tidak jauh dari lokasi benteng Bukit Tak Jadi terdapat lokasi dengan lubang-lubang kecil di permukaan tanah sebagai sisa tungku yang dipercaya merupakan bagian dari dapur yang digunakan pada masa perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Sepertinya Benteng Bukit Tak Jadi dijadikan titik utama perjuangan Imam Bonjol dalam melawan Belanda. “Perjuangan Imam Bonjol akan terasa ketika kita menapakkan kaki di Benteng Bukit Tak Jadi ini”, ujar pak Ali Usman.

Saat ini, di atas bukit Benteng Bukit Tak Jadi telah dibangun sebuah tugu monumen, di sana kita akan menemukan tulisan yang dikutip dari ungkapan Imam Bonjol. Ungkapan itu diucapkan Imam Bonjol atas kekecewaannya terhadap masyarakat Bonjol yang terpecah dan tidak mau bersatu, “melawan Kolonial Belanda bukan masalah bagiku, namun untuk mempersatukan masyarakat Bonjol terluka hatiku karenanya,”. Pemanfaatan situs Benteng Tak Jadi, selain untuk ranah pendidikan dan wisata sejarah, diarahkan pula untuk wisata olahraga paralayang yang sedang digiatkan awal tahun 2015 kamaren oleh Pemerintah daerah Pasaman, yang disokong oleh Dinas Porabudpar, Wali Nagari Ganggo Hihie serta masyarakat setempat. Pemadangan nan indah, angin yang cocok untuk paralayang serta sejarah dari bukit tersebut yang menjadi faktor utama untuk memaksimalkan animo wisata sejarah dan olahraga yang akhirnya akan dapat menopang dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan dari cagar budaya.