Balairung Sari Tabek

Balairung Sari Tabek

Balai Adat nan Kian Bersinar

Oleh: Dodi Chandra

 Jika anda pernah ke Batusangkar, pasti langsung tertuju pada objek wisata Istano Basa Pagaruyung. Hal ini benar adanya, karena Istano Basa Pagaruyung merupakan ikon wisata Tanah Datar yang tak hanya dikenal di dalam negeri saja, namun juga sampai ke luar negeri. Harumnya nama Istano Basa Pagaruyung terletak pada keunikan bentuk rumah tradisional orang Minangkabau yang bergonjong, beratap ijuk dan dihiasi dengan ukiran-ukiran beragam corak dan warna. Selain Istano Basa Pagaruyung, bentuk bangunan tradisional lainnya salah satunya dapat kita nikmati di Balairung Sari Tabek.

DSC_0599
Foto: Balairung Sari Tabek (Dok. Pribadi: 2013)

Balairung Sari Tabek berlokasi di Jorong Tabek, Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kab. Tanah Datar. Bangunan ini berasal dari periode Islam kira-kira abad ke-17/18 Masehi. Balairung Sari Tabek merupakan bangunan Balai Adat yang terbuat dari kayu dengan atap dari bahan ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung. Tantetjo Gurhano adalah orang dibalik pembuatan Balairung Sari Tabek ini, dengan menerapkan bentuk bangunan tradisional Minangkabau. Bangunan Balairung Sari ditopang tiang kayu yang berjumlah 18 pasang, dengan tinggi tiang 3 m. sedangkan tinggi panggung adalah 1 m. Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, berukuran panjang 18 m dan lebar 4.40 m.

DSC_0614
Foto: Ruang tempat pertemuan (Dok. Pribadi: 2013)

Keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya. Pada ruang (bagian antara satu tiang ketiang berikutnya) ke-9 dari kanan (utara) lantainya terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya, sehingga seolah-olah lantai bangunan ini terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan. Yang lebih memikat lagi adalah, sistem pasak masih diterapkan pada bangunan ini, sehingga akan menjadi pola adaptasi yang tepat melihat wilayah Tanah Datar merupakan patahan lempeng yang sering menimbulkan gempa.

DSC_0611
Foto: Teknik Pasak

Di halaman depan Balairung Sari sudah dibuatkan taman, dan dibelakangnya dibuatkan kolam, serta telah diberi pagar tembok keliling dari bata berplester. Di sisi Timur Laut terdapat tambahan bangunan baru yang terletak di tengah-tengah kolam terdapat semacam gazebo (sebuah bangunan ruang terbuka yang berdinding setengahnya dari tinggi bangunan, dengan ukuran bangunan tidak terlalu besar, biasanya seukuran ruangan kamar).

Kepemilikan lahan Balai Rung Sari Tabek saat ini adalah milik adat/ pemerintah, dalam hal pemeliharaan telah dilakukan dengan baik oleh pihak BPCB Sumatera Barat (wilayah kerja Sumatera Barat, Riau dan Kepri). Balairung Sari Tabek masih eksis hingga sekarang. Pemanfaatan Balairung Sari sebagai tempat berkumpul, musyawarah dan atau pertemuan adat, masih bertahan hingga saat ini. Pemerintah nagari, sekolah, kelompok tani, dan lembaga lainnya banyak yang mempergunakan tempat ini sebagai sarana berkumpul dan musyawarah.Selain itu, tak sedikit masyarakat yang berkunjung untuk wisata sejarah dan budaya dan juga pada pelajar yang banyak menjadikan bangunan Balairung Sari ini sebagai objek riset baik itu untuk makalah, artikel dan tulisan ilmiah. Keberadaan bangunan ini terasa sangat berharga bagi masyarakat Minangkabau khususnya. Nilai sejarah, budaya, arsitektur bangunannya yang secara tidak langsung masih menjadi daya tarik bagi khalayak ramai. Dapat dikatakan pula bahwa, Balairung Sari sebagai living monument yang tak lekang oleh roda zaman.