Benteng Jepang Ludai

Sarana Pertahanan Jepang (Bunker)

Ludai, Nagari Pagaruyung

Oleh: Dodi Chandra

Berbicara mengenai pendudukan Jepang di Sumatera Barat pasti langsung terlintas dalam pikiran kita tentang kekejaman Jepang  dengan romushanya. Jepang mulai masuk dan mengeoksploitasi sumber daya  di Sumatera Barat tahun 1942-1945. Dalam rentang waktu itu, Jepang dalam mengamankan posisinya membuat bangunan pertahanan. Di wilayah Sumatera Barat, persebaran bangunan pertahanan Jepang terbilang sangat banyak. Salah satu sebaran benteng Jepang terdapat di Kabupaten Tanah Datar.

Tanah Datar, luhak nan tuo menyimpan banyak tinggalan kepurbakalaan dari periode prasejarah-pasca kemerdekaan. Pendudukan Jepang di Tanah tidak terlalu banyak menyisakan tinggalan. Sarana pertahanan Jepang salah satunya yang cukup banyak yang  tersebar dalam tiga kecamatan yaitu kecamatan Rambatan , kecamatan Salimpaung , dan di kecamatan Tanjung Emas. Kecamatan Tanjung Emas, salah satu wilayah yang menyimpan 2 bangunan pertahanan Jepang, tepatnya di Pagaruyung. Pagaruyung yang juga dikenal dengan darul qoror sangat kental dengan nuansa Kerajaan Pagaruyung. Nah, berikut akan kita jelaskan sedikit tentang bangunan pertahanan yang ada di Nagari Pagaruyung.

Bangunan pertahanan Jepang yang ada di Kecamatan Tanjung Emas berada di Jorong nan IV, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Situs bunker Ludai ini terletak di koordinat E 100º 36’ 35,2” S 00º 27’ 02,2”. Situs ini berada di daerah pinggir sungai Batang Selo, dengan elevasi 500 mdpl. Lahan situs merupakan milik dari kaum Datuk Marajo dan sudah di iinvetarisasi oleh BPCB Batusangkar tahun 2010.

DSC_9960
Foto: Lingkungan situs Benteng Jepang

Bangunan bunker di Ludai ini merupakan bangunan tinggalan dari masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942-1945. Keletakan bunker Jepang berada di tepi lereng yang menghadap ke sungai Batang Selo. Arah hadap ke barat, arah ini menghadap ke sungai Batang Selo dan jalan desa. Hal ini memberi indikasi bahwa benteng dipersiapkan untuk menahan serangan musuh yang berasal dari sungai dan darat. Denah bunker berbentuk tabung dilengkapi dengan 2 jendela pengintai di arah barat dan utara dan pintu masuk arah di arah selatan. Bunker ini terbuat dari dengan ketebalan jendela 85 cm dan ketebalan pinutu masuk 70 cm.

DSC_9949
Foto: Benteng Jepang Ludai I

Saat ini keadaan bunker Ludai tidak terawat ditandai dengan tertutupnya bunker oleh semak belukar dan rerumputan. Menurut Dt. Rajo Malano menuturkan bahwa sarana pertahanan Jepang ini dulunya selain dijadikan sebagai sarana untuk bermain anak sekitar, juga digunakan sebagai tempat untuk melakukan semedi, namun saat ini bunker telah menjadi dead monument dan tidak terurus.

Tidak jauh dari bunker Jepang yang berada di pinggir sungai Batang Selo tersebut, terdapat satu bangunan yang menurut Dt. Rajo Malano merupakan tempat yang digunakan oleh tentara Jepang dahulunya untuk sembunyi dan mengintai musuh yang di jalan sebarang sungai. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan panjang 340 cm, lebar 260 cm. Bangunan ini terbuat dari coran semen campur kerikil dengan tebal 44 cm. Saat ini, bangunan pertahanan Jepang ini tidak terurus dan dipenuhi dengan rerumputan dan sampah.

DSC_9966
Foto: Benteng Jepang Ludai II

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa Jorong nan IV, Nagari Pagaruyung di era Jepang menjadi salah satu wilayah yang cukup penting. Posisi dan keberadaanya yang tak jauh dari kediaman Raja Pagaruyung di Gudam mengindikasikan bangunan ini sebagai pertahanan sebelum musuh masuk ke wilayah Gudam. Periode kolonial Belanda, wilayah Pagaruyung juga tidak kalah pentingnya bagi Belanda, selain dari Van der Capellen (Batusangkar).

Sekarang, Benteng Jepang Ludai II ini juga tidak terawat dan menjadi tempat pembuangan sampah bagi masrayakat. Ketidaktahuan masyarakat akan nilai penting bangunan tersebut, dapat dimaklumi secara bijak. Masyarakat tidak banyak dberi pengetahuan akan pentingnya tinggalan-tinggalan tersebut. Semoga nantinya, benteng Jepang ini dapat dilestarikan dan akhirnya mampu difungsikan untuk wisata dan sarana edukasi bagi pelajar, dan masyarakat Jorong nan IV pada umumnya.

Advertisements