Meriam Bonjol

Meriam Bonjol

Napak Tilas Perjuangan Imam Bonjol

Oleh: Dodi Chandra

 Dalam perjalanan ke daerah Bonjol, tempat dimana lahirnya seorang tokoh yang menjadi pengerak dalam gerakan Perang Paderi melawan pemerintahan Kolonial Belanda. Perjalanan ini menjadi sebuah napak tilas sejarah, dengan mengunjungi beberapa lokasi yang menurut masyarakat menjadi saksi sejarah Paderi. Beberapa tempat tersebut masih ada, dan sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin mengetahui sedikit tentang Perang Paderi. Salah satu objek yang penulis kunjungi adalah meriam Bonjol dalam melawan penduduk Bonjol.

Situs Meriam Bonjol terletak lebih kurang 150 m dari jalan Pasar Ganggo Hilir, arah utara. Dari pertulisan yang tercantum pada meriam diketahui bahwa meriam tersebut berasal dari Portugis dan dibuat sekitar tahun 1700-an. Kondisi meriam saat ini sebagian terkubur dalam tanah. Yang tampak di permukaan adalah bagian moncongnya serta beberapa buah proyektil. Meriam yang tampak di permukaan memiliki panjang sekitar 50 cm dengan lubang meriam berdiameter 11 cm.

DSC_4151
Foto: Meriam Bonjol (Dok. pribadi: 2013)

Dalam penulusan sejarah Paderi di Bonjol, penulis ditemani oeh Bapak Ali Usman yang banyak mengetahui terkait meriam tersebut. Menurut penuturannya, meriam yang di daerah informan di daerah Ganggo Hilir ini merupakan bukti bisu Perang Paderi di daerah ini. Meriam tersebut dalam keadan utuh memiliki ukuran panjang antara 1 – 1,5 m, dilengkapi roda.

Pada meriam ini, terdapat proyektil berjumlah 14 buah berdiameter 9 cm, 10 cm, 13 cm, dan 14 cm. Tiga buah proyektil yang berukuran 13 cm dan sebuah yang berukuran 14 cm bukan merupakan proyektil dari meriam tersebut. Pada proyektil ini terdapat lubang tempat mengisi mesiu yang akan meledak bila membentur sasaran. Proyektil ini memiliki pelontar khusus yang berukuran lebih besar. Selain meriam terdapat kayu yang dipergunakan untuk mencampur mesiu.

DSC_4154
Foto: Proyektil (Dok. pribadi: 2013)

Keberadaan meriam ini dahulunya berkaitan dengan Bukit Tak Jadi. Bukit Tak Jadi yang juga dijadikan benteng pertahanan oleh Belanda sangat strategis dalam memantau pergerakan musuh di sekitar wilayah Ganggo Hilia. informasi dari Pak Ali Usman menguatkan pula bahwa lokasi meriam semula berada di Benteng Bukit Takjadi, namun untuk melindungi meriam kemudian dipindahkan di dekat Pasar Ganggo Hilir. Dengan perpindahan lokasi tersebut, meriam ditempatkan pada sebuah bangunan atau cungkup yang dibangun oleh masyarakat sekitar. Selain untuk menjaga benda budaya, masyarakat juga menganggap meriam tersebut sebagai benda keramat, sehingga perlu dilindungi.

DSC_4147
Foto: Cungkup (Dok. pribadi: 2013)

 

Advertisements